Cabut gigi merupakan salah satu tindakan medis yang banyak ditakuti pada masyarakat. Ada berbagai anggapan yang menyatakan bahwa cabut gigi itu berbahaya, dan salah satunya adalah bisa menyebabkan kerusakan mata hingga kebutaan.

Tidak hanya di Indonesia, anggapan mengenai cabut gigi dapat membuat mata buta juga berkembang di negara lain, contohnya India. Namun, hal ini hanyalah sebuah mitos yang tersebar. Cabang saraf pada gigi dan mata itu berbeda dan tidak berhubungan langsung, sehingga tindakan pencabutan gigi tidak sama sekali mempengaruhi saraf pada mata.

cabut gigi

Mari kita simak pembahasan mengenai kondisi apa saja yang membuat dokter gigi menyarankan untuk cabut gigi. Dan sebagai pasien, kondisi apa saja yang perlu Anda perhatikan.

 Alasan Cabut Gigi

Tentunya dokter gigi akan melakukan pemeriksaan dahulu agar dapat menilai perlu atau tidaknya gigi untuk dicabut, dan biasanya, dokter gigi juga akan melakukan perawatan pada gigi yang bermasalah sebelum memutuskan untuk mencabut gigi tersebut. Beberapa kondisi yang membuat cabut gigi perlu dilakukan adalah:

  • Gigi yang sudah berlubang dan parah.
  • Gigi yang patah setelah berbenturan.
  • Patah tulang rahang dan gigi tersebut terletak pada garis patahan tulang.
  • Sakit gigi karena infeksi pada bagian akarnya. Cabut gigi dilakukan bila pasien tidak bisa melakukan perawatan saluran akar gigi, atau sudah melakukannya namun tidak berhasil.
  • Gigi goyang karena kematian jaringan di ruang tempat gigi yang menempel.
  • Jumlah gigi yang berlebihan.
  • Posisi gigi yang tidak normal dan menyebabkan luka pada jaringan sekitarnya.
  • Gigi yang posisinya berdekatan dengan kelainan jaringan yang berbahaya, misalnya kanker.

Selain kelainan pada gigi atau jaringan di sekitarnya, tindakan cabut gigi juga dilakukan untuk pertimbangan estetika, yang biasanya dilakukan pada perawatan kawat gigi, agar gigi itu terlihat rapi  pencabutan gigi juga sering dipilih oleh pasien karena alasan biaya. Biaya perawatan gigi yang mahal membuat seseorang memutuskan untuk cabut gigi saja, ketimbang melakukan perawatan tersebut.

Kondisi yang Perlu Diperhatikan

Walaupun cabut gigi itu tidak dapat menyebabkan kebutaan, ada beberapa gangguan pada penglihatan yang bisa saja muncul, namun hanya bersifat sementara.

Selain itu dapat juga bisa berisiko menimbulkan sejumlah komplikasi. Salah satunya adalah gangguan pada penyembuhan luka pada jaringan tempat gigi dicabut. Kondisi ini disebut dry socket atau osteitis alveolar, dan bisa membuat penderitanya merasakan nyeri yang hebat.

Untuk menurunkan risiko yang terjadinya komplikasi, prosedur hanya boleh dilakukan oleh dokter gigi. Bila Anda sedang atau pernah menderita penyakit tertentu, informasikan terlebih dahulu kepada dokter gigi sebelum melakukan cabut gigi. Penyakit tersebut meliputi:

  • Diabetes, apalagi gula darah belum terkontrol.
  • Kelainan jantung bawaan.
  • Kelainan katup jantung.
  • Penyakit kelenjar adrenal.
  • Penyakit liver.
  • Penyakit kelenjar tiroid.
  • Penyakit endokarditis.
  • Gangguan sistem kekebalan tubuh, misalnya HIV.

Informasikan juga pada dokter bila Anda sedang hamil atau sedang mengonsumsi obat pengencer darah (misalnya aspirin).

Setelah pencabutan gigi selesai dilakukan dan efek obat bius hilang, Anda akan merasakan rasa nyeri. Tetapi ini merupakan hal yang wajar. Proses penyembuhan luka akan berlangsung dalam waktu 1-2 minggu. Untuk mempercepat penyembuhan dan mencegah timbulnya komplikasi, jangan berkumur terlalu kencang, jangan minum dengan sedotan selama 24 jam pertama, dan tidak di anjurkan merokok. Jika mengalami demam, menggigil, mual, perdarahan yang tidak bias berhenti, nyeri dada, atau sesak napas, segera hubungi kembali dokter gigi Anda tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *